Peredaran Madu Tiruan Dibongkar, 3 Pelaku Diciduk Polda Banten

  • Whatsapp
Tiga tersangka dan barang bukti madu tiruan atau palsu dihadirkan dalam konferensi pers di Loby Mapolda Banten, Selasa (10/11/2020).

KOTA SERANG, RADAR24NEWS.COM-Peredaran madu tiruan atau palsu beromset Rp 8 miliar berhasil dibongkar Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Banten. Dari pengungkapan tersebut, polisi berhasil menangkap tiga pelaku berinisial A (24), MS (47) dan T (35).

Kapolda Banten Irjen Pol Fiandar menjelaskan, terungkapnya kasus peredaran madu tiruan itu, berawal dari laporan masyarakat yang menyebutkan bahwa di Kabupaten Lebak ada peredaran madu palsu.

Bacaan Lainnya

Setelah mendapatkan laporan itu, anggota Dirkrimsus Polda Banten langsung melakukan penyelidikan, beberapa minggu dan setelah menemukan bukti kuat. Petugas menangkap tersangka berinisial A di wilayah Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.

“Tersangka berinisial A ditangkap di sebuah minimarket, Kecamatan Leuwidamar. Kami kembangkan kembali dan menangkap dua tersangka lainnya, yakni berinisial MS dan T ditempat yang berbeda,” kata Fiandar saat konferensi pers di Mapolda Banten, Selasa (10/11/2020).

Dari tangan tersangka berinisial A, lanjut Fiandar, petugas berhasil mengamankan barang bukti madu palsu sebanyak 20 botol, satu jerigen berisi madu palsu. Selanjutnya. Ditangan tersangka MS dan T, pihaknya mengamankan barang bukti lima drum glukosa, perawarna makanan 10 liter dan uang tunai sebesar Rp 66 juta rupiah.

“Jadi modus ketiga tersangka ini, mencari keuntungan dari penjualan madu palsu, berbahan baku glukosa dan warnanya dari molase (ampas tebu_red),” ungkapnya.

Baca juga: Peringati Hari Pahlawan, Pemkot Tangsel Gelar Upacara

Sementara itu, Dirreskrimsus Polda Banten Kombes Pol Nunung Syaifuddin mengungkapkan, berdasarkan pengakuan para tersangka diketahui bahwa mereka mampu memproduksi madu palsu 1 ton dalam sehari. Kemudian, madu palsu tersebut diedarankan ke seluruh wilayah Banten.

“Jika ditotalkan dalam setahun, penjualan madu palsu itu beromset mencapai Rp 8 miliar,” ujarnya.

Nunung menambahkan, ketiga tersangka dijerat dengan Pasal 140 Jo Pasal 86 ayat (2), Pasal 142 jo pasal 91 ayat (1) UURI Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.

“Ancaman pidananya, paling lama 5 tahun penjara. Dan denda Rp 2 miliar,” pungkanya. (siti nur hasanah)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *