Penguatan Ukhuwah Dalam Melawan Terorisme

  • Whatsapp
Penguatan Ukhuwah Dalam Melawan Terorisme
Aris Fajar Rokhani, anggota Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Pusat

Oleh: Aris Fajar Rokhani, anggota Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Pusat

Terorisme

Indonesia masih terus menghadapi masalah terorisme yang dilakukan oleh kelompok radikal. Peristiwa terorisme terakhir adalah serangan teror bom bunuh diri di Gereja Katedral Makasar yang dilakukan oleh sepasang suami istri anggota Jamaah Anshorut Daulah (JAD). Selanjutnya disusul beberapa hari kemudian serangan seorang diri oleh perempuan muda ke Mabes Polri di Jakarta yang disebut “lone wolf” yang berpahaman radikal dan berafiliasi dengan ISIS. Apabila melihat tren terorisme akhir-akhir ini terjadi peningkatan kualitas dari segi pelaku  yaitu melibatkan wanita dan anak muda.

Dalam dua kejadian terorisme tersebut pelaku meninggalkan surat wasiat atau pesan yang hampir mirip seperti keluarganya  menjauhi berhubungan dengan Bank karena Riba serta tidak mendukung Pemerintahan yang dianggap “Thogut” (kafir). Dari pesan tersebut bisa dipahami bahwa pelaku terorisme memiliki pemahaman sempit dalam beragama sehingga menimbulkan semangat yang berlebihan dalam bersikap (ekstream). Pemahaman itulah yang direalisasikan dalam bentuk kegiatan terorisme.

Pemahaman Islam

Sesungguhnya jika merujuk kepada pemahaman Islam sendiri praktek terorisme jauh sekali dari nilai-nilai islam bahkan bertentangan 180 derajat. Islam dari pengertian bahasa berasal dari kata “Assalmu” yang berarti damai atau kedamaian seperti dalam Al-Quran Surat Al Anfal : 61 “ Dan jika mereka condong terhadap perdamaian maka condongkanlah kepadanya dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Dia yang maha mendengar lagi maha mengetahui. Islam juga berasal dari kata “Salaam” yang berarti selamat seperti dalam Al Quran Surat Al Anbiya :69 “Alloh berfirman wahai api jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim”.

Dalam siroh Nabi Muhammad SAW juga menampilkan islam yang damai dan selamat. Bagaimana Rasululloh ketika penaklukan Mekah “Fatkhu Mekah” tidak ada pertumpahan darah sama sekali. Bahkan dalam posisi peperangan sekalipun Rasululloh melarang membunuh wanita dan anak-anak. Praktek kedamaian Islam juga ditampilkan para sahabat seperti ketika Kholifah Umar Ibnu Khattab menakluqkan “Al- Quds” (Yerusalem) pada 638 M dari kekuasaan Romawi, beliau mengeluarkan ikrar yang sangat terkenal “Demi Allah!, jaminan keamanan bagi diri mereka, kekayaan, gereja, dan salib mereka, bagi yang sakit, bagi yang sehat, dan seluruh masyarakat beragama di Kota Suci itu; bahwa gereja-gereja mereka tidak akan diduduki atau dihancurkan, takkan ada satu barang pun diambil dari mereka atau kediaman mereka, atau dari salib-salib maupun milik penghuni kota, bahwa para warga tidak akan dipaksa meninggalkan agama mereka, bahwa tak seorang pun akan dicederai. Dan bahwa, tak seorang Yahudi pun akan menghuni Aelia”. Sehingga bila kita memahami makna asal kata islam dan praktek generasi awal Islam (sahabat) maka terorisme bukanlah ajaran Islam.

Ukhuwah

Salah satu sendi dalam ajaran Islam adalah “Ukhuwah” yang berasal dari kata “akha” dan “akhum” yang bermakna saudara. Betapa pentingnya ukhuwah dalam islam maka ketika Rasululloh hijrah dari Mekah menuju Madinah pertama kali yang dikuatkan adalah ukhuwah yaitu dengan mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Seiring dengan berkembangnya islam maka Ukhuwah juga berkembang bukan hanya persaudaraan sedarah, seiman namun juga berkembang persaudaraan kelompok, kabilah, golongan dan sekarang nation (bangsa). MUI dalam Komisi Ukhuwah Islamiyah memberikan makna ukhuwah dalam 3 perspektif yaitu Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Basyariyah dan Ukhuwah Wathaniyah.

Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah islamiyah adalah Ukhuwah fi din Al-Islam, persaudaraan antar sesama muslim. Alloh SWT memberikan gambaran ukhuwah islamiya seperti bangunan yang saling menopang dan menguatkan atau seperti satu tubuh bila satu bagian sakit maka bagian lain ikut merasakan sakit. Namun realitasnya saat ini terjadi kelompok-kelompok, golongan dan firqoh dimana saling menjelekkkan dan menjatuhkan. Bahkan pada kelompok terorisme mereka merasa dirinya paling benar dan paling shahih dalam pemahaman agama sehingga membid’ahkan kelompok lain. Maka praktek ukhuwah islamiyah adalah seorang muslim menghargai muslim yang lain. Ukhuwah Islamiyah dipraktekkan dengan mengikuti aturan hukum yang berlaku tidak bisa dengan alasan saudara muslim Palestina dijajah lantas dengan alasan ukhuwah islamiyah kita membela dengan melakukan perbuatan melawan hukum yaitu meneror terhadap nasrani (gereja).

Ukhuwah Basyariyah

Basyariyah mengandung makna kemanusiaan dimana Islam menempatkan manusia sebagai mahluk yang harus dihormati dan dijunjung tinggi martabatnya atau dalam perpektif kekinian adalah Hak Asasi Manusia. Ukhuwah Basyariyah ini menembus batas keyakinan sebagaimana praktek Rasululloh menyantuni seorang Yahudi yang buta di pinggiran Kota Madinah. Ukhuwah basyariyah juga diwujudkan dalam ajaran islam seperti pembagian daging kurban dimana boleh diberikan kepada non muslim. Cukuplah hadist yang mengatakan tujuan diutusnya Rasulloh adalah memperbaiki ahlaq manusia.

Ukhuwah Wathaniyah

Wathaniayah adalah persaudaraan karena perasaan sebagai satu bangsa, teritorial ataupun wilayah. Hal ini merupakan naluri dasar yang dimiliki oleh setiap mahluk bahkan hewan sekalipun bila sarangnya diganggu maka akan melakukan perlawanan. Maka praktek ukhuwah wathaniyah adalah pembelaan dan kecintaan terhadap tanah air. Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia membuktikan praktek ukhuwah wathaniyah yaitu jargon yang digelorakan oleh Ulama adalah “Khubbul Wathon Minal Iman” (Cinta tanah air sebagian dari Iman). Dalam terminologi kenabian ukhuwah wathaniyah juga kita temukan ketika Jaman Nabi Ibrahim dimana ketika pertama kali menginjakkan kaki di Mekah beliau berdoa untuk kemakmuran Mekah dengan kata Balad yang bila diterjemahkan berarti Negeri atau Wilayah. Sehingga kecintaan kepada negeri/tanah air merupakan sunah dari Nabi Ibrahim AS.

Pemahaman terhadap tiga prinsip ukhuwah tersebut bukan untuk dipertentangkan namun diselaraskan dalam pemahaman islam yang luas dan benar. Praktek Ukhuwah Isamiyah dalam pembelaan terhadap penindasan umat islam di belahan dunia seperti Rohingnya, Palestina, Suriah dll bisa diwujudkan dalam ukhuwah Wathaniyah melalui peran Negara Indonesia dalam membela umat Islam. Itulah yang ditampilkan oleh Pemerintahan Jokowi – Makruf Amin dalam diplomasi internasional. Kita bisa lihat bagaimana Pemerintah melakukan pembelaan terhadap Umat Islam di Palestina dalam melawan penjajahan Israil. Bagaimana Pemerintah membela pengungsi Rohingnya di Myanmar. Tentunya peran tersebut diwujudkan dalam koridor aturan hukum. Pembelaan terhadap Umat Islam juga bisa diwujudkan dalam ukhuwah Basyariyah melalui bantuan kemanusiaan yang dilakukan oleh Pemerintah Indoensia maupun LSM Indonesia.

Dengan tiga terminologi ukhuwah tersebut, bila dipahami dengan baik dan benar akan menjauhkan diri dari sikap ekstream sehingga bisa mencegah aksi terorisme. Maka perlu sekiranya untuk diperkuat Ukhuwah kita dalam tigal pilar yaitu Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Basyariyah dan Ukhuwah Wathaniyah. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.