LEBAK, RADAR24NEWS.COM– Di tengah hiruk-pikuk Sistem Penerimaan Siswa Baru (SPMB) yang biasanya menjadi ajang “rebutan kursi”, suasana berbeda justru terasa di SD Negeri 1 Pasirgombong Lebak Banten. Tahun ajaran baru 2025/2026 ini, sekolah yang berada di ujung Kecamatan Bayah tersebut hanya menerima empat siswa baru. Ya, hanya empat.
Di balik angka yang minim itu, tersimpan kisah sunyi tentang sebuah sekolah yang bertahan di tengah perubahan zaman dan kepergian penduduk akibat lesunya aktivitas tambang emas yang pernah ramai di kawasan itu.
Dulu Ramai karena Tambang, Kini Sepi Ditinggal
Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Hadi Mulya, membenarkan bahwa SD Negeri 1 Pasirgombong Lebak Banten berada di daerah yang dulu hidup karena tambang emas. Namun setelah aktivitas tambang menurun, kawasan itu perlahan ditinggalkan.
“Warga di sana kebanyakan dulu pendatang. Sekarang tambangnya sudah tidak produktif lagi, banyak yang pindah. Tinggal beberapa warga asli,” kata Hadi, Kamis (10/7/2025).
Meski begitu hanya ada empat siswa, Hadi memastikan bahwa sekolah tersebut tetap berjalan karena hanya ada satu sekolag dasar di wilayah itu.
“Kalau tutup, anak-anak di sana enggak ada akses pendidikan,” lanjutnya.
Sekolah Terpencil yang Menolak Menyerah
Dibanding sekolah negeri lain yang mungkin kelebihan murid, SD Negeri 1 Pasirgombong Lebak Banten justru bertahan dengan siswa seadanya. Total hanya ada belasan murid aktif di seluruh jenjang. Tapi semangat para guru tidak pernah luntur.
“Susah memang kalau mayoritas guru honorer. Apalagi BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dihitung dari jumlah murid. Tapi mereka tetap mengajar,” ungkap Hadi.
Satu Sekolah untuk Satu Wilayah
Di kawasan terpencil seperti Pasirgombong, SD Negeri 1 Pasirgombong menjadi satu-satunya harapan. Jarak ke sekolah terdekat bisa berkilo-kilometer dengan medan yang berat.
“Kami tidak akan menutup sekolah selama masih ada murid, meski hanya satu. Ini bagian dari hak pendidikan,” tambahnya.
Harapan dan Tantangan
Kondisi ini juga menjadi alarm bagi pemerintah. Perlu strategi khusus agar sekolah seperti SD Negeri 1 Pasirgombong tetap hidup. Mulai dari rekrutmen guru, penyediaan fasilitas, hingga keterlibatan warga sekitar. Hadi berharap, persepsi bahwa sekolah negeri harus gratis tidak menjadi beban sepihak.
“Semoga masyarakat sekitar yang masih bertahan bisa ikut aktif membangun sekolah. Karena pendidikan itu milik bersama,” tutupnya.
Editor: Imron Rosadi





































