TANGERANG, RADAR24NEWS.COM-Suasana Alun-alun Tigaraksa, Puspemkab Tangerang, Sabtu (21/6/2025), mendadak ramai penuh tawa dan semangat! Sebanyak 907 pelajar dari 34 sekolah memadati lapangan dalam rangka Invitasi Olahraga Tradisional Tangerang tingkat SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA sederajat.
Ajang tahunan ini resmi dibuka langsung oleh Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, yang menekankan pentingnya melestarikan budaya olahraga tradisional di era serba digital.
“Saat ini gempuran olahraga modern makon masif, tapi kita harus tetap menjaga akar budaya bangsa. Ini bukan sekadar mainan tempo dulu, tapi warisan yang membentuk karakter dan kebugaran,” ujar Bupati Maesyal di hadapan peserta.
Baca Juga: Semangat KORMI Kota Tangerang Menggelora Jelang FORNAS VIII Lombok
Komitmen Serius Pemkab dan KORMI
Ketua Umum KORMI Kabupaten Tangerang, Dedi Sutardi, menegaskan bahwa invitasi ini jadi bagian dari misi pelestarian olahraga tradisional.
“Kalau tidak kita jaga, lama-lama bisa punah. Melalui event ini, kita ingin mempopulerkan olahraga tradisional ke pelajar supaya tetap eksis,” jelasnya.
KORMI juga mendorong pembentukan unit di tingkat kecamatan agar olahraga tradisional bisa masuk ke aktivitas rutin masyarakat.
10 Cabang Olahraga Tradisional Jadi Panggung Aksi
Acara ini mempertandingkan 10 Induk Olahraga (Inorga) tradisional, antara lain:
- Gebug Bantal
- Egrang
- Hadang
- Lari Balok
- Terompah Panjang
- Sumpitan
- Ketapel
- Dagongan
- Bola Sundul
- Gangsing Putar
Peserta dari berbagai tingkatan usia tampak antusias dan penuh semangat bersaing, menunjukkan bahwa olahraga tradisional masih punya tempat spesial di hati generasi muda.
Peserta Ngaku Seru, Lebih Seru dari Main Gadget!
Salah satu peserta, Raisa (15), siswi SMP Negeri di Kecamatan Rajeg, mengaku ini pengalaman tak terlupakan.
“Biasanya main HP terus, sekarang bisa ngerasain serunya lomba gebug bantal sama egrang bareng temen-temen. Asli ngakak banget!” katanya sambil tertawa.
Senada, Dio (12), pelajar SD dari Kecamatan Panongan, bilang dia baru tahu kalau ada olahraga seperti “Terompah Panjang”.
“Kirain awalnya gampang, tapi ternyata butuh kerja sama dan keseimbangan. Tapi jadi seru banget!” ungkap Dio.
Editor: Imron Rosadi



































