LEBAK, RADAR24NEWS.COM—Saat 344 desa di Kabupaten Lebak semangat membentuk Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, hanya satu desa yang berkata “punten, kami tidak bisa ikut.” Yup, itu Desa Kanekes, rumah dari Suku Baduy, masyarakat adat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur.
Menurut Asep Wahyudin, Kepala Bidang Koperasi Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, keputusan ini bukan tanpa alasan.
“Dari total 345 desa dan kelurahan, hanya Desa Kanekes Baduy yang tidak membentuk Kopdes. Karena memang bertentangan dengan aturan adat mereka,” jelas Asep, Rabu (16/7/2025).
Kopdes Merah Putih sendiri merupakan program nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ekonomi desa. Namun, adat Baduy tidak memperbolehkan pembentukan lembaga ekonomi modern seperti koperasi.
Baduy Konsistensi Menjaga Budaya Karuhun
Sejarawan asal Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Dadan Hermawan yang juga peneliti budaya Baduy dari Lembaga Kajian Sejarah Banten, menjelaskan bahwa sikap penolakan terhadap program koperasi modern merupakan bentuk konsistensi Suku Baduy dalam menjaga karuhun (ajaran leluhur).
“Suku Baduy memiliki prinsip hidup mandiri berbasis swadaya dan gotong royong tanpa campur tangan lembaga modern. Bagi mereka, sistem ekonomi harus sejalan dengan nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya saat dihubungi wartawan.
Ia juga menegaskan bahwa keputusan Desa Kanekes bukan bentuk antipati terhadap pemerintah, melainkan bentuk penghormatan terhadap tata nilai masyarakat adat.
“Pemerintah justru patut diapresiasi karena menghargai kearifan lokal. Ini bukti bahwa pembangunan tak selalu harus seragam, melainkan bisa kontekstual sesuai identitas tiap wilayah,” pungkasnya.
Baca Juga: Dana Hibah Pemkot Tangerang Mengalir ke Koperasi Merah Putih
Suku Baduy Berasal dari Daerah Mana?
Untuk yang belum tahu, Suku Baduy berasal dari Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Mereka terkenal sebagai kelompok masyarakat yang menolak segala bentuk modernisasi, demi menjaga kesucian adat dan alam.
Baduy adalah Agama Apa?
Suku ini memeluk agama Sunda Wiwitan, kepercayaan lokal yang menjunjung hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Hyang Kersa, sang pencipta semesta.
Suku Baduy Berbahasa Apa?
Suku Baduy sehari-hari menggunakan bahasa Sunda Banten, yang mirip dengan Sunda Jawa Barat, meski terdengar lebih “kasar” bagi sebagian orang luar. Tapi jangan salah, sopan santun mereka tetap nomor satu.
Saat desa-desa lain berlomba mengadopsi sistem ekonomi modern, Suku Baduy justru mengingatkan bahwa tidak semua kemajuan harus diikuti. Kadang, menjaga warisan budaya juga bentuk kemajuan tersendiri.
Jadi, next time kamu dengar soal Baduy, ingat: mereka bukan ketinggalan zaman — mereka justru lebih dulu sadar pentingnya hidup seimbang.
Editor: Imron Rosadi








































