LEBAK, RADAR24NEWS.COM—Sudah tiga tahun lamanya jembatan gantung di Kampung Sarageni, Desa Sarageni, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, dibiarkan rusak tanpa perbaikan dari pemerintah. Jembatan yang membentang di atas aliran Sungai Ciujung ini menjadi akses utama warga menuju sekolah, ladang, dan antar kampung. Namun, kerusakannya justru harus ditangani oleh warga sendiri—dengan gotong royong dan patungan.
“Sudah kami ajukan ke pemerintah, tapi enggak kunjung ada perbaikan. Jadi akhirnya warga inisiatif, karena ini akses penting. Kalau rusak terus, bisa-bisa makan korban lagi,” ujar Mahdun (36), warga yang turut dalam aksi perbaikan, Kamis (10/7/2025).
Sudah Makan Korban
Jembatan gantung ini bukan sekadar infrastruktur, tetapi penghubung kehidupan warga. Dengan kondisi lama yang sangat mengkhawatirkan—material berkarat, tali sling putus, dan kayu bantalan berlubang—warga tak punya pilihan selain bergerak sendiri. Beberapa warga mengelas ulang bagian besi, sementara yang lain memotong kayu untuk mengganti bantalan.
“Dulu ada warga yang jatuh dari jembatan ini, sampai meninggal. Makanya kami enggak mau nunggu ada korban lagi,” ungkap Iwan Setiawan (29), petani muda yang setiap hari melintasi jembatan untuk ke kebun.
Menurut Iwan, jembatan alternatif lain sebenarnya ada, tapi jaraknya jauh dan menyulitkan warga. Apalagi bagi anak-anak sekolah yang setiap pagi melintas, jembatan ini adalah jalan tercepat dan satu-satunya yang efisien.
“Kalau hujan deras, sungai meluap, dan jembatan makin enggak aman. Tapi ya itu, dari pemerintah belum pernah turun langsung ke lokasi,” tambah Iwan, kecewa.
Baca Juga: Warga Desa Cadasari Pandeglang Gotong Royong Perbaiki Jalan Rusak
Aksi Nyata, Tanpa Bising
Warga Desa Sarageni memilih bertindak nyata dibanding mengeluh panjang. Mereka urunan dana, membawa alat masing-masing, dan membagi tugas. Tak ada bantuan dari dinas, namun semangat kebersamaan menjadi fondasi yang kuat.
“Ini gotong royong murni. Enggak ada anggaran dari desa atau bantuan dari kabupaten. Semua dari warga, demi kenyamanan dan keselamatan kita bersama,” tutur Yati (41), ibu rumah tangga yang ikut bantu logistik untuk para pekerja.
Pemerintah Belum Hadir
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan dari Dinas PUPR Lebak terkait perbaikan jembatan tersebut. Warga hanya berharap aksi swadaya ini tidak sia-sia dan bisa memantik perhatian pemerintah.
“Kami bukan minta banyak, cuma perhatian. Ini soal keselamatan warga. Jangan nunggu ramai di media dulu baru ditindak,” pungkas Yati.
Aksi gotong royong warga Desa Sarageni memperbaiki jembatan rusak adalah simbol perlawanan terhadap ketidakpedulian birokrasi. Mereka tidak hanya membangun kembali jembatan secara fisik, tapi juga menjaga nyawa dan masa depan warganya. Kisah ini adalah pengingat bahwa di tengah minimnya perhatian negara, rakyat selalu punya cara untuk saling menjaga.
Editor: Imron Rosadi








































