LEBAK, RADAR24NEWS.COM-Kabar baik buat kamu yang takut harga beras naik! Bulog Lebak-Pandeglang resmi mencetak rekor penyerapan gabah tertinggi sepanjang sejarah unit tersebut berdiri. Total gabah kering panen (GKP) yang berhasil diserap sejak awal 2025 ini mencapai 35 ribu ton! Hasilnya? 21 ribu ton beras lokal siap masuk stok gudang.
Langkah ini disebut-sebut sebagai penyelamat swasembada beras lokal sekaligus bentuk konkret dukungan terhadap petani di dua kabupaten, yaitu Lebak dan Pandeglang.
“Alhamdulilah, stoknya cukup banyak untuk sekarang ya. Ini hasil serapan gabah yang kita jalankan langsung ke petani, dan hasilnya luar biasa. Sudah naik tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu,” ujar Agung Trisakti, Pimpinan Bulog Sub Drive Lebak-Pandeglang, Sabtu (21/6/2025).
Serapan Gabah Bukan Kaleng-Kaleng
Sebagai catatan, tahun 2024 lalu Bulog hanya mampu menyerap 6.000 ton gabah. Tapi tahun ini? Boom! Angka itu melonjak drastis ke 35 ribu ton gabah yang dikonversi jadi 21 ribu ton beras.
“Ini benar-benar pencapaian terbaik, karena kita biasanya enggak nyampe segini. Alhamdulillah serapan kali ini rekor,” tambah Agung.
Tak hanya itu, program penyerapan ini dilakukan langsung ke sawah, demi menjaga harga di tingkat petani tetap stabil. Bonusnya? Petani juga makin sejahtera karena gabah mereka langsung dibeli dengan harga pantas.
Target Nasional, Cek!
Program ini juga sejalan dengan instruksi pemerintah pusat untuk menyerap 3 juta ton gabah secara nasional. Untuk Bulog Lebak-Pandeglang, target akhirnya adalah 39 ribu ton gabah, dan kini sudah 90 persen tercapai.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat target akhir bisa kita lampaui. Ini bukan cuma soal beras, tapi juga soal harga, kesejahteraan petani, dan ketahanan pangan kita,” ujar Agung.
Baca Juga: Naas! Jatuh Saat Metik Daun Melinjo, Warga Asal Cibadak Lebak Ditemukan Tewas
Fun Fact: Gudang Sampai Penuh!
Saking banyaknya stok beras, gudang Bulog di Lebak-Pandeglang sampai 3x lipat lebih penuh dari biasanya. Tapi ini bukan masalah, malah jadi bukti betapa seriusnya langkah Bulog menjaga pangan lokal.
Editor: Imron Rosadi








































