KAB. SERANG, RADAR24NEWS – Jumlah kasus DBD Jawilan di Kabupaten Serang terus menunjukkan tren peningkatan. Hingga Agustus 2025, tercatat sebanyak 25 kasus positif DBD dan 3 kasus suspek, angka yang sudah melampaui jumlah total kasus sepanjang tahun 2024 lalu.
Kepala Puskesmas Jawilan, Imas Migiarti, mengungkapkan peningkatan ini erat kaitannya dengan kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Saat ini kita masuk musim kemarau basah. Ada hujan, ada panas, itu kondisi yang sangat disukai nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak,” jelasnya, Minggu (24/8/2025).
Baca Juga: Waspada! Dinkes Kabupaten Tangerang Catat 300 Kasus DBD Sejak Awal Tahun
Kasus Meningkat Dibanding Tahun Lalu
Data Puskesmas Jawilan mencatat, sepanjang 2024 ada 24 kasus DBD. Namun baru sampai bulan Agustus 2025, jumlah kasus sudah mencapai 25 pasien positif ditambah 3 suspek.
“Ada peningkatan cukup signifikan. Untungnya semua kasus tahun ini bisa ditangani dengan baik, tidak ada korban meninggal,” tegas Imas.
Sebagai perbandingan, periode Januari–Juni 2025 terdapat 14 kasus. Dalam dua bulan terakhir saja, tambahan 11 kasus baru kembali muncul.
Kader Jumantik Jadi Garda Terdepan
Untuk mencegah DBD Jawilan semakin meluas, pihak puskesmas membentuk kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di setiap lingkungan. Kader ini bertugas memantau kebersihan serta mengingatkan warga agar rutin menguras bak mandi, menutup wadah air, dan memberi Abate pada tempat penampungan air.
“Kita minta masyarakat menjaga lingkungan tetap bersih. Pengendalian DBD bukan hanya tugas petugas kesehatan, tapi harus menjadi kebiasaan bersama,” ujar Imas
Harapan ke Depan
Puskesmas Jawilan berharap dukungan penuh masyarakat agar tren kenaikan DBD bisa segera ditekan. Menurut Imas, keberhasilan pengendalian DBD ditentukan oleh partisipasi aktif warga dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“DBD bisa dicegah kalau kita bersama-sama peduli. Jangan menunggu ada korban dulu baru bertindak,” tutupnya.
Suara Warga: Khawatir, Tapi Waspada
Fenomena meningkatnya kasus DBD turut dirasakan warga. Siti Aminah (32), warga Kampung Cibugel, mengaku was-was karena anaknya pernah terjangkit DBD.
“Sekarang saya lebih rajin bersihin halaman dan menguras bak. Kalau lihat ada genangan langsung saya buang, biar nyamuk nggak betah,” katanya.
Sementara itu, Ahmad Fauzi (41), warga Pasir Buyut, menilai masyarakat perlu disiplin.
“Fogging memang membantu, tapi itu bukan solusi utama. Lingkungan kita yang harus bersih dulu. Kalau semua warga sadar, insyaAllah DBD bisa ditekan,” ujarnya.
Editor: Imron Rosadi




































