Balita Diduga Keracunan Obat Puskesmas Petir Tangerang

Balita Diduga Keracunan Obat Puskesmas Petir Tangerang
Ilustrasi: Foto dan berita tidak ada kaitannya. foto hanya ilustrasi. (net)

KOTA TANGERANG, RADAR24NEWS.COM-Diduga keracunan obat kedaluwarsa, balita berusia 1,5 bulan harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit (RS) Mulya di Jalan KH Hasyim Ashari, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun radar24news.com, awalnya balita tersebut dibawa ke Puskesmas Petir, Kecamatan Cipondoh lantaran mengalami demam. Setelah mendapatkan obat, balita tersebut justru kejang-kejang. Selanjutnya, ibu balita langsung membawa anaknya tersebut ke RS Mulya untuk mendapatkan perawatan intensif.

Bacaan Lainnya

Menangapi hal ini, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Liza Puspadewi membenarkan informasi balita tersebut mengalami kejang-kejang. Namun demikian, Liza membantah, penyebab balita tersebut kejang-kejang akibat obat kedaluwarsa yang diberikan Puskesmas Petir.

“Sama sekali belum kadaluarsa. Masih sampai akhir bulan itu bisa diminum (Obat). Karena itu kita masih harus memeriksa kondisi kesehatan balitanya agar tahu penyebab kejang itu darimana,” kata Liza saat dikonfirmasi radar24news.com, Sabtu (15/5/2021).

Baca juga: Warga Kabupaten Lebak Minta KRL Kembali Beroperasi

Sebelum mengalami kejang-kejang, menurut Liza, awalanya balita tersebut dibawa ke puskesmas petir karena mengalami demam dan langsung diresepkan obat penurun panas.

“Awalnya balita dibawa ke puskesmas petir oleh orang tuanya karena demam hari kamis kemarin. Lalu, pihak puskesmas kasih resep obat penurun panas. Tapi, setelah diberi obat, orang tua mengaku balita alami kejang dan sempat mengeluarkan busa,” jelasnyanya.

Senada disampikan Liza, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Kabid Yankes) pada Dinkes Kota Tangerang Sudarto mengatakan, jika melihat tulisan kadaluarsa dikemasan obat memang tertera 05-2021. Namun berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi V halaman 42, obat tersebut kedaluwarsa hingga 31 Mei 2021 mendatang.

“Iya, dikemasan obat memang tertera 05-2021. Tetapi jika mengacu pada Farmakope Indonesia Edisi V halaman 42, hal itu menunjukkan jika tanggal kadaluarnya adalah 31 Mei 2021. Masih akhir bulan dan belum kadaluarsa itu hitungannya,” jelasnya.

Sudarto menambahkan, terkait kasus ini nantinya akan dilakukan pembinaan dan pengawasan agar hal serupa tidak terulang lagi.

“Kelanjutan kasusnya sendiri, nanti pihak kita akan melakukan pembinaan dan pengawasan. Baik saat ditemukan kasus khusus serupa ada ataupun tidak,” pungkasnya. (mg-alvi lutfiah agisni/imron)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.